Pengolahan Ruang

1 03 2010

Bentuk ruang dapat diolah dengan pola-pola sesuai keinginan pengguna ruangan tersebut. Pembentukan ruang yang nyaman biasanya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti :

  1. Fungsi dan tujuan utama ruang
  2. Lalu lintas/sirkulasi
  3. Arah matahari, angin dan pandangan
  4. Ergonomi, antropometri
  5. Unsur estetika dan suasana
  6. Proporsi
  7. Komposisi
  8. Irama
  9. Keselarasan dan kesatuan

10.  Kontras/aksen

Ruang dalam rumah dengan bentuk-bentuk permanen dapat diubah kesannya tanpa harus melakukan pembongkaran atau penambahan bagian-bagiannya. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan ruang adalah

1. Ruang rendah terkesan tinggi

–          Dinding diberi motif garis tek lurus

–          Pelapis dinding tehak lurus ditempel sampai plafond

–          Penyinaran terang pada plafond

2. Ruang tinggi terasa rendah

–          Lapisi dinding dengan motif horizontal sampai plafond

–          Plafond juga diberi motif horizontal

–          Penyinaran ke arah lantai

3. Ruang kecil tampak memanjang

–          Salah satu dinding diberi pelapis dengan warna kontras

–          Plafond diberi motif bergaris lurus memanjang

–          Pada dinding tatapan diberi warna ringan

4. Ruang kecil terkesan besar

–          Menggunakan pelapis pada sisi dan plafond dengan warna cerah bermotif lembut

–          Menggunakan pelapis dinding bermotif garis tegak lurus dan hindari warna kuat

–          Memberi efek mengkilap

–          Membuat bukaan kaca agar tampak menyatu dengan eksterior

5. Ruang luas tampak sempit

–          Seluruh dinding dilapisi warna kuat

–          Motif pola-pola besar

–          Dinding dibuat pelapis bergaris diagonal dengan warna kuat

Warna akan terlihat lebih hidup dengan bantuan pencahayaan yang baik. Warna-warna yang dapat digunakan untuk membentuk Efek psikologis pada ruang antara lain :

–         Biru : jauh, sejuk, menyejukkan. Warna yang tenang dan damai. Secara psikologis biru memberikan kesan luas, menenangkan, dan menekan emosi.

–          Hijau : Jauh, tersejuk/netral, menyejukkan. Warna hijau dapat menghadirkan suasana harmonis yang tenang, sifat kasih sayang. Warna ini sering disosialisasikan sebagai warna yang suci, dekat dengan keseimbangan spiritual, khususnya kaum muslim. Hijau juga berkaitan erat dengan kesan kekayaan dan kemakmuran.

–          Merah : Dekat, panas/hangat, menyolok, Sifat warna merah dapat meningkatkan aktifitas kerja, meningkatkan gairah, semangat dan kecepatan kerja. Pada ruang belajar anak anda bisa menambahkan warna ini untuk merangsang semangat belajar anak.

–          Orange : Dekat, terhangat, menyolok. Dari segi Psikologis warna orange bisa membantu pencernaan dan meningkatkan nafsu makan. Warna orange juga bisa menampilkan kesan keceriaan dan kehangatan.

–          Kuning : Dekat, terhangat, menyolok. Warna kuning sering disosialisasikan sebagai warna yang baik, meningkatkan semangat, dan fokus. Warna kuning juga merupakan simbol kemakmuran, keagungan, dan kemewahan.

–          Ungu : Terdekat, sejuk, merangsang. Warna ungu memberikan kesan anggun dan megah pada ruangan.

–          Hitam : Dekat, panas, merangsang

–          Keemasan : Cerah, netral, aristokrat

Advertisements




Memudarnya Citra Kawasan Kesawan

23 02 2010

Kesawan adalah nama tempat di Kota Medan yang menjadi bukti sejarah masa kolonial Belanda. Banyak bangunan sejarah yang masih tersisa ditengah gempuran bangunan-bangunan baru yang tidak memperhatikan keberadaannya.

Kesawan adalah kawasan tua dengan karakter yang kuat, terletak dipusat kota Medan, dan mampu menceritakan sejarah masa lalunya yang merupakan bagian dari sejarah terbentuknya kota Medan. Struktur tempat ( ruang dan karakter ) Kesawan dapat dilihat melalui susunan massa dan ruangnya yang membentuk jaringan kompleks, bagaikan sebuah teks yang baru dapat dibaca apabila bagian-bagian pembentuknya diuraikan satu persatu secara detail, yang menyimpulkan jiwa dari arsitektur kawasan ini.

Karena lokasinya yang strategis sebagai jalur yang ramai, didukung dengan letaknya yang berdampingan dengan Esplanade ( sekarang Lapangan Merdeka ), yang merupakan pusat orientasi urban, dan kantor pos & giro pusat serta stasiun kereta api Medan – Belawan, kesawan berkembang menjadi sebuah kawasan tersendiri.

Kapling yang relatif sempit pada kesawan menjadi ciri khas tersendiri. Kepadatan yang menjadi ciri khas pemukiman Cina disesuaikan dengan cara hidup dimana pada lantai dasar sebagai tempat usaha dan lantai atas berfungsi sebagai tempat tinggal. Karena persil bangunan yang relatif kecil, bangunan dibangun berbentuk ruko berlantai dua yang berhimpitan satu dengan yang lain, sedangkan bangunan sudut diolah khusus dengan bukaan kejalan-jalan pendukung.

Bangunan lama pada kesawan umumnya berlantai dua. Konfigurasi ini membentuk suatu kesatuan dimana bangunan duduk diatas bumi dengan kokoh. Hanya bangunan sudut yang relatif lebih tinggi dan memberi kesan menjulang kelangit. Konfigurasi ini juga mendekatkan alam (langit) dengan manusia dan memungkinkan sinar matahari mencapai bangunan, mengingat ukuran jalan yang tidak begitu lebar.

Bangunan di Kesawan dibangun sebagai pelengkap terhadap alam dan dikondisikan bersahabat dengan alam. Bangunan memiliki atap yang dominan dan bukaan yang besar serta arcade. Selain itu simbolisasi dipergunakan untuk melambangkan eksistensi manusia. Penggunaan dan penggabungan berbagai motif dan ornament Melayu, Cina, dan Eropa mendominasi bangunan. Ada beberapa bangunan sejarah yang masih ada seperti Gedung Lonsum, Tjong A Fie Mansion, Restoran Tip Top, dan lainnya.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan kebutuhan manusia yang serba kompleks, kehadiran bangunan baru yang tidak kontekstual dengan bangunan baru yang bersejarah tidak dapat dielakkan lagi. Bangunan masif yang menjulang hadir mewarnai citra kawasan kesawan. Pemakaian material yang mencolok, warna yang kontras, dan ketinggian yang ekstrim membuat carut marutnya kawasan ini.

Selain kondisi bangunan baru yang tak terkendali, hadirnya street furniture berupa lampu jalan, papan reklame, dan lainnya membuat lengkap sudah kesemerawutan kawasan ini. Tak terkonsep, tak terencana, dan tak diperhatikan. Itulah yang bisa diucapkan untuk menggambarkan kondisi ini.

Beberapa hal yang merusak citra kawasan kesawan antara lain :

–         Skyline kawasan tak teratur dengan hadirnya bangunan baru yang menjulang tinggi.

–         Fasade yang tidak kontekstual dan seirama dengan bangunan lama

–         Continuitas arcade dengan bentuk busur (arc) hilang dengan adanya aktifitas perdagangan di daerah tersebut.

–         Munculnya material bangunan seperti kaca dan aluminium yang tidak memiliki karakter terhadap bangunan lama.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dasar penataan terhadap struktur tempat sekarang berubah, sehingga mengaburkan orientasi dan menimbulkan identifikasi yang rancu yang mulai merusak totalitas Kesawan. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa perubahan dominan yang terjadi adalah terhadap system of place, konstitusi formal, artikulasi formal, dan fasade dari struktur tempat.

Adanya bangunan baru yang terdapat pada deretan bangunan lama di kawasan Kesawan ini sangat berpengaruh terhadap citra kawasan. Suatu kawasan yang seharusnya tetap dipertahankan fungsinya sebagai kawasan bangunan lama tidak lagi berfungsi sebagai mana mestinya, kini pada kenyataannya telah banyak bangunan baru yang bermunculan pada kawasan ini yang secara fisik tidak lagi menggambarkan bangunan yang sesuai dengan citra kawasan.

Dalam dekade terakhir ini kesawan mulai dikaburkan oleh penegembangan bangunan baru yang kurang mempertimbangkan struktur tempat dan tidak menghormati tempat. Jika keadaan ini berlangsung terus maka dipastikan Kesawan akan hilang dan digantikan dengan alienasi lingkungan.